Krisis Hunian Eropa Memicu Protes, Ini Pelajaran bagi Pembeli Rumah Indonesia

2026-10-28 13:00:51

2026-10-28 13:00:51

Krisis Hunian Eropa Memicu Protes, Ini Pelajaran bagi Pembeli Rumah Indonesia

Krisis hunian di sejumlah kota Eropa berkembang menjadi persoalan sosial yang serius. Harga rumah dan biaya sewa terus naik ketika penghasilan banyak warga tidak cukup untuk membayar tempat tinggal sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekanan tersebut mendorong anak muda, mahasiswa, aktivis, dan kelompok penyewa turun ke jalan hingga mendirikan tenda di ruang publik.

Gelombang protes di Portugal, Spanyol, Italia, dan Jerman menunjukkan bahwa masalah perumahan tidak hanya berkaitan dengan jumlah bangunan yang tersedia. Keterjangkauan, pemanfaatan rumah kosong, kestabilan biaya sewa, serta perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran hunian sama-sama menentukan apakah masyarakat benar-benar dapat memperoleh tempat tinggal.

Harga Rumah dan Sewa Menekan Warga Portugal

Di Portugal, protes akibat krisis perumahan telah berlangsung sejak awal Oktober 2026. Sejumlah peserta aksi menginap dan membangun tenda di Lapangan Rossio, pusat kota Lisbon. Mereka mempersoalkan harga rumah yang semakin jauh melampaui rata-rata penghasilan.

Berdasarkan data yang disebutkan dalam sumber, harga rumah di Portugal telah mencapai dua kali rata-rata harga pada 2017. Tekanan tidak berhenti pada pasar pembelian karena biaya sewa juga melonjak. Situasi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok muda, semakin kesulitan memiliki tempat tinggal sendiri.

Kondisi ini memperlihatkan pentingnya melihat keterjangkauan sebagai hubungan antara harga properti dan kemampuan finansial masyarakat. Kenaikan nilai rumah belum tentu menjadi kabar positif apabila biaya untuk membeli atau menyewa tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan.

Kasus Penyewa di Spanyol Menjadi Pemicu Gerakan

Di Spanyol, salah satu aksi yang mendapat perhatian luas berawal dari pengalaman Maricarmen Abascal. Perempuan lanjut usia tersebut diusir setelah tidak lagi mampu membayar biaya sewa yang dinaikkan pemilik unit di luar kemampuannya.

Kasus Abascal kemudian mendapat dukungan dari warga lain yang menghadapi persoalan serupa. Bersama serikat penyewa, mereka menuntut pemerintah menekan harga sewa rumah. Aksi bertahan selama berbulan-bulan, dengan massa mendirikan tenda di alun-alun kota.

Tekanan politik ikut meningkat. Pemerintah pusat, yang disebut tidak dapat mengesahkan aturan baru mengenai perumahan, memutuskan memajukan pemilu ke akhir tahun. Di tengah aksi yang masih berlangsung, Abascal meninggal dunia setelah kesehatannya menurun sejak terusir dari rumah sewa.

Peristiwa tersebut menegaskan besarnya dampak perubahan biaya hunian terhadap keamanan tempat tinggal. Bagi calon pembeli rumah, kemampuan membayar perlu dinilai berdasarkan kondisi keuangan yang realistis, bukan hanya kelayakan memperoleh pembiayaan pada awal transaksi.

Italia Menghadapi Beban Biaya dan Jutaan Rumah Kosong

Persoalan Italia memiliki dua sisi: beban biaya hidup yang berat dan banyaknya properti yang tidak dihuni. Sekitar tujuh juta orang disebut sedang kesulitan menghadapi biaya hidup. Sebagian mengaku penghasilannya habis untuk membayar sewa atau cicilan rumah. Bagi tiga juta orang, pembayaran tersebut menyerap hingga 40 persen gaji.

Pada saat yang sama, data menunjukkan 70 persen warga Italia memiliki rumah, tetapi banyak hunian dibiarkan kosong. Dari 32,2 juta rumah milik individu, sebanyak 19,8 juta ditempati pemilik, 3,6 juta disewakan, dan 5,7 juta merupakan rumah kedua yang sering tidak digunakan. Sebagian bahkan tidak memiliki sambungan utilitas. Jika kepemilikan perusahaan dan badan hukum turut dihitung, jumlah properti kosong mencapai 9,6 juta.

Ketidakpuasan atas kenaikan biaya sewa kemudian memicu aksi mahasiswa di Naples pada Senin, 26 Oktober 2026. Mereka mendirikan tenda di depan gedung pemerintahan kota.

Bagi investor properti, gambaran ini menjadi pengingat bahwa kepemilikan aset dan penggunaan aset merupakan dua hal berbeda. Rumah kosong dalam jumlah besar tidak otomatis menyelesaikan kebutuhan hunian apabila properti tersebut tidak masuk ke pasar sewa atau tidak dapat digunakan.

Tuntutan Berlin dan Pelajaran untuk Keputusan Properti

Di Berlin, warga meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar pada masalah perumahan. Tuntutan mereka mencakup pembangunan rumah baru yang terjangkau, pembatasan kenaikan sewa hingga 1 persen, penurunan sewa yang berada 20 persen di atas rata-rata lokal, pembatasan hunian liburan dalam blok perumahan, serta penawaran flat kosong di pusat kota kepada warga yang berhak atas perumahan sosial. Demonstrasi mengenai tingginya harga sewa berlangsung pada 5 September.

Rangkaian kejadian di Eropa memberi pelajaran praktis bagi pembeli rumah Indonesia. Harga beli perlu dipertimbangkan bersama cicilan, biaya hidup, ketahanan pendapatan, dan tujuan penggunaan rumah. Investor juga perlu menilai apakah properti akan ditempati, disewakan, atau berpotensi menganggur karena keputusan tersebut memengaruhi manfaat nyata aset.

Pembeli yang mencari hunian modern di Jakarta Barat dapat memasukkan akses, fungsi ruang, kemampuan pembayaran jangka panjang, dan kesesuaian dengan kebutuhan keluarga ke dalam evaluasi. Untuk mengenal pilihan hunian serta informasi kawasan secara lebih terarah, pembaca dapat mengunjungi MeruyaLand.

Sumber Informasi

detikProperti: Krisis Hunian Memanas, Gelombang Protes Meluas di Spanyol-Portugal

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner