Rumah Tasya Farasya Retak, Eks Kontraktor Beri Penjelasan dan Audit Struktur Berjalan

2026-11-03 13:00:39

2026-11-03 13:00:39

Rumah Tasya Farasya Retak, Eks Kontraktor Beri Penjelasan dan Audit Struktur Berjalan

Persoalan retakan pada rumah Tasya Farasya memasuki babak baru. Mantan kontraktor proyek tersebut, PT Hashimawira Bersaudara (HWB), menyampaikan penjelasan mengenai riwayat pembangunan, lingkup pekerjaannya, serta proses penghentian kerja sama. Pada saat yang sama, tim kontraktor baru masih menjalankan investigasi struktural untuk menentukan kondisi bangunan dan langkah perbaikan yang tepat.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa retakan pada bangunan bertingkat tidak cukup dinilai hanya dari tampilannya. Penelusuran dokumen teknis, pemeriksaan material terpasang, dan kejelasan serah terima pekerjaan diperlukan sebelum penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab dapat ditentukan.

Proyek Berubah dari Renovasi Menjadi Bangunan Empat Lapis

Menurut keterangan HWB, perusahaan tersebut ditunjuk sebagai kontraktor sejak 2022. Permintaan awal berupa renovasi rumah dua lantai, tetapi rencananya kemudian berubah menjadi pembangunan ulang dengan empat lapis bangunan.

HWB menyebut izin bangunan telah diurus untuk bangunan tiga lapis dengan satu basement dan terbit pada 1 Desember 2022. Pembangunan struktur empat lapis dimulai pada Juni 2023. Setelah struktur diselesaikan, pekerjaan diteruskan ke dinding penyekat, plafon, serta sistem Mechanical, Electrical, and Plumbing atau MEP.

Luas bangunan dalam dokumen proyek disebut mencapai 1.678,85 meter persegi. HWB menangani proyek hingga September 2025, ketika pemilik meminta seluruh pekerjaan dihentikan dan pembangunan dialihkan kepada kontraktor lain. Dalam pernyataannya, HWB mengatakan penghentian tersebut terjadi ketika masih terdapat pekerjaan yang belum selesai, terutama pada bagian MEP.

Serah Terima dan Batas Lingkup Pekerjaan Dipersoalkan

Setelah menerima instruksi penghentian, HWB menyatakan telah menyusun Berita Acara Serah Terima (BAST) untuk dibahas dan ditandatangani kedua pihak. Namun, menurut perusahaan itu, pemilik maupun wakilnya belum menanggapi dokumen tersebut. HWB juga mengaku pernah menawarkan diri untuk meneruskan atau setidaknya mengawasi sisa pekerjaan MEP beserta pemeliharaannya.

Penjelasan juga diberikan mengenai ruang kosong di bawah tangga depan. HWB menyebut area tersebut semula direncanakan sebagai ruang servis bagi jalur pipa utama. Akan tetapi, perusahaan menyatakan kondisi dinding bawah tangga yang beredar di media sosial berada di luar lingkup pekerjaan mereka.

HWB menegaskan kesediaannya menangani keluhan apabila ditemukan pekerjaan yang tidak memenuhi standar atau menyimpang dari kesepakatan. Meski demikian, pernyataan tersebut tidak menguraikan penyebab utama munculnya retakan. Dengan demikian, penjelasan eks kontraktor belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan teknis atas kondisi rumah.

Audit Menemukan Perbedaan dengan Gambar Teknis

Sebelumnya, Tasya Farasya mengungkapkan bahwa retakan muncul di banyak bagian rumah yang belum genap satu tahun dihuni. Ia kemudian menunjuk PT Chandra Mitra Strukturindo (CMS) untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikan.

Direktur Utama sekaligus pemilik CMS, Wiryawan Chandra, mengatakan timnya sedang mengumpulkan data lapangan dan menyiapkan kajian teknis. Hasil investigasi itu akan digunakan untuk mengevaluasi kondisi struktur serta merencanakan metode perbaikan.

Dalam pemeriksaan awal yang dipaparkan, tim CMS membandingkan kondisi konstruksi dengan as-built drawing atau gambar teknis akhir proyek. Mereka menemukan jarak komponen yang diperiksa mencapai 130 mm, sedangkan gambar mencantumkan 100 mm. Diameter tulangan utama yang semestinya D16 atau 16 mm terukur 15,36 mm. Besi sengkang yang seharusnya berdiameter 10 mm juga disebut terukur 7,39 mm.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara gambar dan elemen yang diperiksa di lapangan. Namun, sumber menyebut investigasi masih berlangsung. Kesimpulan mengenai penyebab retakan dan rancangan perbaikannya tetap perlu menunggu pengumpulan data serta kajian teknis selesai.

Pelajaran Praktis bagi Pembeli dan Pemilik Rumah

Bagi pembeli rumah atau pemilik yang membangun sendiri, kasus ini menegaskan pentingnya menyimpan kontrak, gambar struktur, spesifikasi material, laporan progres, perubahan desain, dan as-built drawing dalam satu arsip. Perubahan dari renovasi dua lantai menjadi bangunan empat lapis, misalnya, merupakan perubahan besar yang perlu tercermin secara jelas pada perencanaan, perizinan, dan dokumentasi pelaksanaan.

Serah terima juga sebaiknya tidak dipandang sebagai formalitas. BAST membantu mencatat batas pekerjaan, bagian yang belum selesai, kondisi bangunan ketika tanggung jawab berpindah, dan pihak yang mengerjakan tahap berikutnya. Hal ini semakin penting ketika proyek berganti kontraktor di tengah jalan karena hasil akhirnya dapat melibatkan pekerjaan dari lebih dari satu pelaksana.

Apabila retakan ditemukan, pemilik sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyebab hanya berdasarkan foto atau ukuran retakan. Pemeriksaan tenaga ahli diperlukan untuk mencocokkan kondisi lapangan dengan gambar teknis dan menentukan apakah masalah berada pada struktur, dinding, sambungan, instalasi, atau bagian lain. Untuk kebutuhan hunian modern di Jakarta Barat, pembaca juga dapat mempertimbangkan informasi hunian dan perencanaan rumah melalui MeruyaLand.

Sumber Informasi

detikProperti — Eks Kontraktor Buka-bukaan soal Rumah Tasya Farasya Retak-retak

Saatnya Memiliki Rumah Modern di Jakarta Barat

Temukan hunian berkualitas dengan desain modern dan lokasi strategis bersama MeruyaLand.

🏡 Lihat tipe rumah dan promo terbaru di MeruyaLand.com

Artikel lainnya

dikembangkan oleh

Infiniti Office, Arcade Business Center 6th Floor Unit 6-03, Jl. Pantai Indah Utara 2 Kav. C1, PIK Penjaringan, Jakarta Utara 14460

meruyaland@gmail.com

Frida 081296368540

Ruslan 085211592799

Official Lending Partner